Skip to main content

Menulis Itu Menyembuhkan Hati Part 2 l Siklus Menulis


Menyambung tulisan lama saya,  Menulis Itu Menyembuhkan Hati , dan sedikit banyak efek setelah membaca postingan blog Dewi Lestari yang berjudul, Menulis Sehat.

" Citra penulis akrab dengan depresi dan kesendirian " Dewi Lestari
Di tulisannya, Dewi Lestari atau yang lebih akrab dipanggil Dee ini berujar tidak setuju dengan steriotipe tersebut. Sejalan dengan pendapat Dee, saya sendiri juga kurang setuju dengan citra tersebut. Karena, justru dari kebersamaan dengan berbagai orang, atau tempat, atau situasi kondisi, yang akhirnya melahirkan sebuah tulisan.

Bila di tulisan saya sebelumnya lebih menekankan bahwa menulis merupakan salah satu cara melampiaskan emosi, bukan berarti emosi tersebut tergolong dengan apa yang disebut dengan depresi. Bagi beberapa orang menulis dijadikan media berekspresi atau sekedar mencurahkan isi hati dengan tujuan penyegaran/refreshing.

Pun, jika pada kenyataannya banyak penulis yang lahir dari keadaan terkekang, tertindas yang mengerucut kepada kondisi depresi seperti, Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar, seperti yang dicontohkan Dee dalam tulisannya. Jujur saja buku dari kedua penulis tersebut menjadi favorit saya sampai sekarang.

Dapat juga mengambil contoh J.K Rowling yang menulis ketiga novel sekuel Harry Potter dalam kondisi kekurangan dan terhimpit keuangannya. Atau Andrea Hirata yang menggambarkan kondisi sekolah di daerahnya. Karya kedua penulis ini mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan yang tentunya memberikan kemudahan finansial.

Apakah semua penulis berujung dengan kekayaan yang mereka dapatkan sebagai buah dari tulisannya? 
Saya berpendapat hal tersebut tidak melulu berujung ke kekayaan.

Hal tersebut tergantung dengan tulisan yang disajikan apakah memenuhi keingintahuan dan kebutuhan pasar pembaca. Tergantung pula dengan seberapa tajam penamu menulis tentang situasi sosial atau hal-hal yang cenderung sensitif, seperti SARA. Tidak dapat dipungkiri situasi politik suatu negara dapat juga mempengaruhi eksistensi karya tulisan dari seorang penulis. Hehe.

Lalu sejauh apa tulisan yang saya sendiri telah hasilkan?

Dalam sejarah saya baru menulis 2 karya ilmiah sebagai syarat kelulusan dari 2 universitas tempat saya menempuh jenjang kuliah. Keduanya tentang hukum atau lebih detailnya mengenai pertanahan.

Sedangkan tulisan lain yang saya buat berdasarkan hobi mengalami siklus kekanakan, alay, dan pada akhirnya mendekati jenjang kedewasaan.

Dimulai dengan masa sekolah di SMP, saya beberapa kali menulis cerpen dan mengirimnya ke redaksi majalah yang hits saat itu, majalah Fantasi dan Gaul. Tapi entah karena cerpennya masih berantakan atau jelek, atau ending yang selalu saya ciptakan sad ending. Konsumen pembaca mungkin saat itu lebih menyukai budaya pop. Alkisal cerpen kiriman saya tidak pernah ada yang diterbitkan.

Selain cerpen sebenarnya saya lebih sering membuat puisi. Buku binder semasa SMP dan SMA alih-alih diisi dengan catatan sekolah, lebih saya dominasi dengan puisi. Beberapa kali saya mengirim puisi yang saya buat ke pengurus mading ( majalah dinding ) sekolah. Keberadaan mading saat itu tidak se-ngetren mading di film Ada Apa Dengan Cinta? Hehe.
Meski dipajang di mading, saya ragu apa ada yang membaca. Bagi saya puisi saya saat itu seperti pengisi kekosongan mading sekolah belaka.

Puisi buatan saya juga pernah beberapa kali muncul di newsletter keluaran distro lokal Solo. Percayalah mengapa puisi saya bisa nampang di situ lebih karena hubungan perteman dengan teman-teman distro saya saat itu. Keraguan puisi saya dibaca muncul juga saat itu.

Berlanjut saat masa kuliah, saya pernah setahun ikut menjadi pengurus BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa)  kampus. Saat itu ada pemekaran Departeman baru. Dan lagi-lagi ketika diseleksi saya berucap bahwa hobi saya menulis. Jadilah saya ditempatkan di departemen baru tersebut dengan salah satu kegiatan rutin adalah mengurusi mading kampus. Well, lagi-lagi mading dan lagi-lagi mading kampus saya juga tak terlalu ngetren kecuali bila ada pengumuman mengenai organisasi kampus dan kegiatan UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa).  Bila sedang kesulitan harus ngisi mading dengan apa. Saya kembali menempel puisi saya yang entah ada yang membaca atau tidak.

Sebagai generasi 90an, saya menjadi saksi hidup gempuran kemajuan teknologi komunikasi. Menjadi akrab dengan internet, saya bertemu dengan komunitas blog di Solo. Meskipun sebenarnya saya sudah memulai menulis di blog sejak SMA karena ikut arus blog yang menjadi happening karena Raditya Dika. Pertengahan kuliah, saya resmi menjadi salah satu member Komunitas Blogger Bengawan dan belajar bagaimana menulis ( lebih ke arah ngeblog ) dengan baik.

Seperti siklus kehidupan manusia, gaya nulis blog saya juga mengalami hal demikian. Dari awal nulis dengan gaya alay yang mungkin lebih menghasilkan sampah ketimbang tulisan yang baik. Sempat dibilang sebagai diary online, saya pun mencoba berbenah dengan materi dan gaya penulisan saya

Menemukan tema menulis yang saya suka?

Seiring pengalaman nulis, saya menemukan ketertarikan dan keinginan untuk membuat blog bertema kopi, yang mana adalah minuman nyang sangat saya gemari. Tak dapat dipungkiri ritual yang dikatakan Dee ketika menulis salah satunya sambil menikmati minuman kopi juga menjadi habbit saya saat itu. Jadilah Cappucino Letter, sebuah blog yang lebih profesional dibandingkan blog pribadi saya ini. Cappucino Letter ini saya kelola sendiri dibantu oleh teman-teman dari Blogger Bengawan lengkap dengan webhosting dan domain sendiri. Berharap blog tersebut mempunyai masa depan yang baik, saya pun gencar promosi blog saya dengan banner yang diiklan di beberapa blog teman saya maupun meng-invite banyak teman di sosial media untuk melakukan klik and like fans page Cappucino Letter.

Sayangnya, akibat kesibukan bekerja dan kuliah di Surabaya, Cappucino Letter berakhir dan tidak saya teruskan.

Apakah menulis di blog itu menghasilkan uang?
 
Sebenarnya ngeblog itu dapat memberikan penghasilan sendiri untuk si empunya blog. Melalui media Adsense atau iklan-iklan yang dipajang oleh media online di blog kamu. Untuk menuju ke situ bukan pula hal mudah karena Google sendiri juga memberikan berbagai kriteria blog yang dipromosikan melalui Adsense. Untuk blogger profesional,biasanya dia telah mempunyai pelanggan yang memesan sebuah tulisan ke blogger tersebut. Hal demikian berarti si blogger telah mencapai tahap posting berbayar. 

Saya pribadi belum pernah membuat sebuah posting berbayar. Semua tulisan blog saya rata-rata hanya berdasarkan keinginan dan kesenangan menulis. Meskipun dari kesenangan tersebut saya terkesan promosi suatu hal atau tempat, tapi saya belum pernah mendapat bayaran darinya. Tidak pernah dibayar bukan berarti saya tidak pernah mendapat keuntungan dari ngeblog. Saya pernah menikmati makan dan ngopi gratis di Kedai Kopi Oey Jogja dan Solo setelah membagikan link postingan blog saya ke Pak Bondan Winarno.

Bagi saya menulis itu sendiri sudah merupakan  sebuah kesenangan tanpa mempermasalahkan apakah dari tulisan saya menghasilkan sesuatu.  Dari hasil tulisan sendiri, saya dapat menggunakannya sebagai media refleksi dan instropeksi  dari tulisan itu. Seperti perkembangan siklus kehidupan manusia, kualitas, bobot, dan materi tulisan seseorang juga mengalami perkembangan. 

Salam,
Ebikdei

Comments

Post a Comment

Thanks for your comment

Popular posts from this blog

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Mescusuar Sembilangan Madura

Beberapa waktu lalu, ketika saya masih berdomisili di kota Surabaya, saya berkesempatan mengunjungi Mercusuar Sembilangan di Madura. Tepatnya tempat ini berada di Kabupaten Bangkalan, Madura. Akses paling mudah ditempuh melalui jalur darat dengan menyeberang jembatan sekaligus jalan tol Suramadu, yang menghubungkan kota Surabaya dengan pulau Madura. Biaya masuk tol untuk sekali masuk terbilang lumayan mahal menurut saya, yaitu Rp 30.000,- untuk angkutan roda empat atau lebih untuk sekali lewat.  Sehingga ongkos untuk sekali pergi dan kembali dari pulau  Madura yaitu Rp 60.000,-. Lumayan juga kan.

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…