Skip to main content

Puisi adalah pemberian bukan permintaan

Selamat pagi dari Boyolali.
Pagi ini 3:39 am ( saya lebih memilih menggunakan setting 12 jam daripada 24 jam karena meski saya pandai matematika, saya paling malas berpikir soal angka ).

Tulisan ini sudah ditemani sacangkir kopi instan yang selalu disiapkan Mama ketika saya di rumah dan musik edm di kedua kuping saya.


Kurang lebih sebulan lalu saya mendaki gunung Semeru dan seminggu kemudian muncullah sebuah puisi berjudul 'Antara Surabaya dan Semeru'. Lain kalu akan saya post and save di sini. Berhubung keterbatasan sinyal di desa dan saya ngetik di handphone.

Beberapa hari setelah puisi itu saya buat, saya mencoba menghubungi seorang teman saya yang saya tahu dia penyuka puisi dan kadangkala menulis puisi.

Mundur beberapa tahun dulu.
Saya punya dua orang teman yang keduanya tidak saling kenal. Keduanya pernah satu universitas saat saya nemempuh kuliah di UNS. Yang pertama kemudian pindah jurusan filsafat di universitas paling keren di Jogjakarta. Kemudian terakhir saya dengar dia masuk organisasi keagamaan kemudian hilang kontak. Yang kedua adalah aktivis mahasiswa dan demonstran di Ibukota. Keduanya adalah pria dan teman baik saya. Kesamaannya adalah kita penikmat kopi, buku, puisi, dan terlahir berzodiak dengan lambang air. Aquarius

Karena yang pertama menghilang, saya menghubungi yang kedua. Dan mengirim puisi saya.
Dari sekian panjang kata-katanya, hanya dua pertanyaan yang saya ingat.
Setelah empat tahun akhirnya menulis puisi lagi?
Ada apa di Semeru?

Beberapa hari kemudian muncul seorang teman saya bilang begini, " mbak, aku jadi pingin nulis puisi" dan copy paste puisi yang saya baca di whatsaap messanger saya.

Teman saya tadi mengingatkan saya dengan seorang kekasih lama saya yang pernah meminta sebuah puisi. Pada akhirnya saya buatkan kemudian saya lupakan.

Kau tahu, kau harus mencapai sebuah titik ketegangan di hati dan kepalamu yang mampu membuatmu merangkai sebuah puisi.

Perasaan yang dalam. Keinginan yang terpendam. Teriakan yang digaungkan dalam rangkaian. Sebuah keindahan.

Dan semuanya tak akan pernah murni bila diminta. Puisi itu pemberian bukan permintaan.

Entah berapa puisi yang pernah saya tulis di buku diary, kertas, halaman blog, majalah dinding, atau newsletter produk indi lokal.

Dalam memang. Tapi tetap sebuah lembaran kehidupan yang bisa dilupakan. Jadi jangan menghakimi seseorang atas puisi yang telah dia tulis. Kehakiman atas inspirasi menurut saya tidak pernah adil. Sama seperti kenangan, puisi juga kenangan yang dibuat indah.

Meski tak melulu masalah hati, terima kasih untuk orang orang yang pernah menjadikan saya inspirasi mereka. Meski baru saya sadari.

Lalu untuk deretan inspirasi saya yang hanya saya yang tahu. Semoga pesan itu sampai bila anda mau lebih dalam meresapi kata.

Iya saya akan menulis lagi.
Sudah mendekati pagi, saya ingin berjalan ke pematang sawah dekat rumah saya untuk menangkap matahari.
Pagi

Salam
-Ebikdei-


Comments

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.