Skip to main content

Pria. Dan Wanita Strata Dua

Surabaya, 6 Juni 2016, 10:23 PM



Apa pendidikan terakhirmu?
Sering kali pertanyaan ini kita jumpai di kehidupan sehari-hari, baik melalui percakapan lisan maupun tulisan, atau sekedar mengisi informasi biodata akun media sosialmu. Well, pentingkah pendidikan terakhir?

Penting menurut saya tapi bukan segalanya karena biasanya lawan bicara kita akan mulai membicarakan kecocokan pekerjaan dengan pendidikan terakhir kita, misalnya.


Sebenarnya topik pembicaraan ini ingin saya angkat dari dulu. Tapi menunggu saya mendapat predikat Strata Dua terlebih dahulu mungkin terlihat lebih afdol. Iya saya seorang wanita lulusan Strata Dua atau yang lebih populer dengan istilah S2 dengan gelas Magister. Jujur agak berat  dan takut dengan gelar tersebut karena orang akan cenderung memandang maupun menguji  kita sebagai seorang Master. Padahal sejatinya pelajaran dan ilmu yang hakiki menurut saya ditemukan di jalan dan perjalanan. Jujur saja, apa yang bisa kau lakukan setelah lulus dan mempunya gelar Sarjana? Saya yakin semua sarjana kembali belajar dan mempraktekkan ilmu mereka di kehidupan pekerjaan.

Saya seorang wanita menyandang gelar Magister. Wanita Jawa.
Akh. Benci saya ketika harus membicarakan RASIS. Tapi kenyataannya semua itu masih hidup dan mendarah daging di masyarakat.

Kamu. Seorang pria, bagaimana memandang wanita strata dua?
Boleh dijawab dalam hati. Bila berkenan dapat menyampaikan pandangannya di kolom "komentar" di bawah.
" Bagus, Bik. Kamu keren. Gak semua bisa kayak kamu. Kamu hebat". Ini adalah sejumput komentar positif dari sekeliling saya. Sekeliling di sini yang saya maksud adalah teman-teman, rekan kerja, kenalan. Keluarga jangan dikatakan lagi. Jelekpun seorang ibu akan mengatakan anaknya cantik jelita.
Respon positif dari lingkungan yang saya dapatkan tidak sedikit.

Tapi coba saya koreksi lagi. Mayoritas teman-teman saya adalah seorang yang open minded . Tidak memandang dari strata pendidikan dan seorang yang ambisius dalam karier maupun pendidikan. Tak heran bila yang saya dapatkan adalah respon baik-baik.

Respon baik berbanding baik?
Ternyata yang saya temukan lain.

Setelah itu mencoba melek dan bertanya pada sekumpulan orang yang berbeda dengan saya.
" Buat apa, Bik cewek kuliah tinggi tinggi. Ibuku menyarankan ambil Pasca setelah menikah. Makanya aku gak mau ambil Pasca sebelum menikah. Ya cewek kayak  kita ini rata-rata ditakuti oleh pria "

Sayangnya respon negatif tersebut saya dapatkan tanpa mengaku bahwa saya adalah Strata 2 atau omongan teman-teman saya yang keceplosan.
Oh betapa gak adilnya ketika seseorang berpikiran wanita lebih baik mengambil Pasca setelah menikah. Setelah laku.
Katanya sudah emansipasi wanita? Hehe.

Mengujinya secara langsung dengan pria-pria yang pernah saya temui dan berbincang.
Oh, kamu S2?
Yah kamu S2 ya?
Iya tapi Ebik ternyata S2.
Itu adalah kata-kata yang sering saya dengar dari mulut pria yang pendidikannya dibawah saya.

Mengecewakan. Sangat mengecewakan jujur. Ketika ternyata beberapa orang masih memandang selayaknya wanita bila akan meneruskan progam Pasca setelah menikah.
Tujuannnya apa? Menjaga gengsi lelaki?
Akh kau kalau ingin maju kenapa tidak berusaha sendiri?
Memangnya saya jatuh dari langit sudah S2?

Untuk melengkapi riset pribadi saya, saya juga pernah menanyakan hal tersebut. Kali ini bukan kepada pria dengan tingkat pendidikan di bawah saya. Saya mencoba bertanya kepada kepada teman  dengan predikat S2 bahkan S3. Yang kata manusia awam adalah kedudukan setara dengan saya.

Kebanyakan mereka menerima dan bahkan senang bila mempunyai pasangan dengan predikat S2       ( Yailayah mereka sudah S2 bahkan S3 ). Mengapa demikian ? Apakah karena wanita S2 tersebut tidak melukai ego para pria?
Kecenderungan para Magister dan Doktor tersebut akan sangat akademis. Memandang hampir semua hal dari kacamata keilmuan mereka. Mengkotak-kotakan kepingan kegiatan maupun penghidupan. Wow. Hebat sekali ya?

Katanya semakin berisi padi kian merunduk.
Terlalu pentingkah gelar-gelar tersebut?

Bukankah makin berilmu seseorang seharusnya benar-benar menyadari bahwa dia memiliki dua bola mata. Memiliki dua telinga. Saya yakin informasi yang dilihat dan didengar akan semakin banyak seharusnya membuat seseorang tersebut menjadi semakin bijak dalam mengeluarkan pendapat dari satu-satunya mulut yang dimiliki.
Atau hanyakah saya terlalu banyak berpikir.

Salam,
-Ebikdei-



Comments

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.