Skip to main content

Pentingnya Identitas Diri

Surabaya, 1 November 2015

Selamat malam pembaca . Btw, masih adakah pembaca blog ini setelah setahun lebih tidak dibuka.
Well, pertama saya ucapkan terima kasih untuk koneksi gratis kost baru saya dan kepusingan menjelang ujian proposal tesis saya besok sehingga membuat saya kembali menulis di sini.

Hmm....topik apa yang menarik hari ini? Biar kita mulai dari udara.


Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya mengenai pentingnya arti sebuah identitas diri. Identitas di sini bisa saya kategorikan menjadi dua, yaitu identitas tersurat dan tersirat. Identitas tersurat sendiri bisa kita lihat dari dokumen-dokumen kependudukan seperti KTP, SIM, Pasport dan ketiga identitas tersebut sudah diatur jelas dan tegaas oleh Undang-Undang. Identitas kedua adalah yang tersirat, dimana bisa terlihat dari watak dan karakter yang seseorang bangun sendiri untuk dirinya sendiri.

Well, untuk identitas kedua kita bahas lain waktu ya karena memerlukan pengenalan dan pengamatan yang lebih mendalam.

Mengenai identitas yang pertama? Apa jadinya bila pembaca di sini dalam waktu yang singkat kehilangan semua identitas kependudukan anda? Kalau boleh berbagi yang saya rasakan adalah was-was dan ketidakpedean ketika berada di saat tersebut.

Sekitas 3 minggu lalu saya sempat tertimpa musibah di kota saya tercinta, Surabaya dan bahkan di depan kost saya yang rasa aman. Singkat cerita, pada suatu malam yang belum larut tepatny saya pukul 19. 30 WIB saya dijambret di depan kost saya sendiri ketika turun dari mobil saya. Kebetulan penjambret saya saat itu mengendarai sepeda motor. Sempat mempertahankan tasnya, saya berlari mengejar penjambret namun segera disadarkan dan kembali ke mobil saya yang tidak terkunci. Kebetulan daerah tempat saya tinggal adalah lingkungan perumahan sepi yang didominasi orang Tionghoa. Tanpa berniat menyalahkan keadaan atau keapatisan lingkungan saya, saat itu memang orang-orang akhirnya keluar rumah dan melongok dari balkon rumah masing-masing.

Singkat cerita saya menderita kerugian baik materiil maupun immateriil. Boleh dikatakan semua barang pribadi seorang wanita berada di dalam tasnya. Seiiring raibnya tas hitam kerja saya, raib pula semua identitas kependudukan saya. KTP, SIM, NPWP, STNK, kartu asuransi, kartu jamsostek, kartu debit, kredit, dan banyak kartu yang mencantumkan nama saya raib.

Sehari setelah kejadian tersebut, setelah di BAP tiga jam lebih di Polsek Gubeng, yang terpikir oleh saya adalah kembali ke rumah. Sekedar menenangkan diri dan mengurus semua dokumen kependudukan saya.

Bermodalkan surat keterangan dari polisi, saya berniat pulang ke Solo. Terjadi suatu kebingungan bagamana cara saya pulang Solo dengan naik kereta? Dimana saya tidak memback up data data saya. Akhirnya saya bisa naik kereta dengan menggunakan ijazah S1, foto copy KTP expired, id card perusahaan saya bekerja dan surat keterangan polisi.

Rasanya tidak pede sekali saat itu. Dimana saya harus berkali-kali menjelaskan kenapa dan bagaimana semua identitas saya hilang. Dan harus kebingungan saat ditanya apa identitas yang dimiliki.

Saran saya agar pembaca memback up semua identitas anda dengan cara memfoto copy dalam jumlah yang cukup karena niscaya semua itu masih dapat digunakan meski hanya berupa foto copy. Dan bagi pengendara wanita, baik sepeda motor maupun mobil, dimohon agar lebih berhati hati karena memang wanita selalu dijadikan obyek empuk dalam tindak kejahatan. Berhati hatilah saat akan naik atau mobil, jangan lupa mengunci kunci mobil anda karena kejahatan merampas tas wanita di dalam mobil saat lampu merah juga sedang marak. Bagi pengendara motor harap lebih hati hati dalam membawa tas. Lebih aman bila kalian membawa tas kemudian menutupinya dengan jaket.
Selalu amati sekeliling anda bila ada orang mecurigakan yang menguntit.
So guys, berhati hati lebih mudah daripada harus mengalami kehilangan identitas seperti saya.

Semoga bermanfaat.
Salam,
BikDei

Comments

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.