Skip to main content

Metode pembatasan penggunaan otak

Selamat malam dari Surabaya.

Sebelumnya saya ingin bertanya apakah dari kalian ada yang gemar membaca serial detektif Sherlock Holmes?Kebetulan saya penggemar buku, serial tivi maupun film dari Sherlock Holmes. Paling suka dengan bukunya karena masalah dan penjelasannya lebih mendalam daripada film maupun serial tivinya.

Dalam salah satu serial bukunya ada adegan dimana dr. Watson bertanya mengapa Sherlock begitu ingat akan beberapa hal sekaligus buta akan beberapa hal dalam hal bersamaan?
Sherlock pun menjawab kemampuan otak manusia itu terbatas, biarlah hanya informasi-informasi penting dan dia anggap penting yang ada di dalam otaknya lalu menyimpannya ke dalam kotak-kotak ingatan dengan rapi. Apabila suatu saat akan membuka kotak tersebut, si manusia tidak mengalami kesusahan karena harus memilah milah informasi-informasi lain yang kurang penting terlebih dahulu.


Melalui pernyataan fiksi dari Sherlock tersebut yang memotivasi saya untuk membatas sejumlah informasi mana yang harus saya ingat dan mana yang harus saya singkirkan dari ingatan saya. Terlebih saya adalah seorang yang bekerja di dunia sosial namun berangkat dari science. Yes, saya adalah sarjana hukum yang sangat science di bangku sekolah. Itu juga merupakan salah satu alasan saya tidak ingin menghapal segala hal yang berhubungan dengan angka. Sampai detik ini saya hanya menhapal nomer hape saya, tanggal lahir dari keluarga saya. Selebihnya saya mempercayakannya kepada smartphone dan agenda saya yang tersingkronisasi dengan email dan beberapa akun media sosial saya.
Selain itu meski hampir 3 tahun saya bekerja di sebuah bank swasta di kota Surabaya, saya masih belum dapat menghapalkan nomer-nomer extansion rekan-rekan kerja saya dan rumusan biaya yang harus saya bebankan kepada masing-masing notaris. Yes saya adalah seorang pelupa yang tak pernah lupa harus menemukan semua catatan-catatan saya dimana.

Kalau mengutip perkataan teman saya, " kamu bukannya pelupa, kamu hanya mau mengingat apa yang kamu anggap penting atau apa yang kamu senangi"
Itu sebabnya mengapa saya harus mengecek google terlebih dahulu untuk menetukan Pekanbaru, Riau itu ada di pulau di Indonesia bagian mana? Yes sampai tulisan ini dibuat saya tidak hapal Pekanbaru itu ada dimana.
Bukan berarti tidak ada sama sekali yang saya ingat di dunia ini. Boleh berbangga hati, saya masih ingat bagaimana menghitung peluang golongan darah dan buta warna dari sebuah keluarga dan keturunanya.

Bila kita memiliki kemauan untuk lebih mengenal diri sendiri dan kemampuan-kemampuan yang dimiliki, sebenarnya kita dapat mengetahui kemampuan otak yang luar biasa dan mungkin diluar bayangan kita.
Di sini saya akan memberikan dua contoh yang saya alami sendiri :
Pertama, setelah peristiwa penjambretan yang saya alami, saat itu mungkin karena shock dan ketakutan sehingga mengaburkan informasi-informasi yang telah saya terima oleh indera saya terutama penglihatan dan pendengeran.Ketika kita berada di keadaaan yang tenang dan berkonsenterasi, ternyata saya seakan akan bisa memutar kembali cuplikan adegan film kehidupan saya. Meski informasi-informasi yang saya terima kembali seakan muncul sedikit sedikit. 
Pengalaman kedua, selama kita hidup di dunia ini pasti telah mengenal banyak orang, baik itu dekat atau hanya sekedar kenal. Percaya atau tidak manusia itu mengalami masa kenal, dekat, menjauh hampir di semua orang yang pernah dia kenal. Fasa tersebut juga dapat diacak. Ketika kita mengalami masi lebih dekat dengan seorang teman kita, tanpa disadari otak bawah sadar kita akan lebih memfokuskan pada hal-hal tentang teman kita tersebut. Dan hebatnya saya bisa menemukan informasi-informasi yang sebelumnya saya anggap remeh dan kurang penting.

Dari kedua contoh tersebut dapat saya ambil kesimpulan bahwa sebenarnya otak manusia itu menyimpan hampir semua informasi yang dia peroleh melalui indera-indera yang dimiliki manusia. Kita sebagai sebagai manusia hanya butuh lebih berkonsenterasi dalam mencari informasi-informasi yang mungkin terselip di bagian otak ingatan kita. Keren ya Allah menciptakan manusia serumit dan secanggih ini. 

Salam,
-BikDei

Comments

Post a Comment

Thanks for your comment

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.