Skip to main content

Rectoverso : Cinta Yang Tak Terucap

Cinta yang tak terucap. Kalau boleh saling jujur, pasti semua manusia di dunia pernah merasakan dan mengalami cinta yang tak terucap. Mungkin itu juga yang coba ditampilkan oleh Dewi "Dee" Lestari lewat kumpulan cerpen Rectoverso.

Rectoverso sendiri merupakan hibrida antara karya fiksi dan musik yang kemudian diangkat ke layar leba,r sama dengan saudaranya, Perahu Kertas. Well, di sini saya akan mecoba berbagi cerita tentang Film Rectoverso saja  ( karena saya belum sempat membaca bukunya).

Lagi, untuk kedua kalinya karya Dewi Lestari diangkat ke layar lebar. Dan lagi, bertemakan cinta (hehe). Tapi kali ini Rectoverso muncul dengan 5 plot yang berbeda dan saling berdiri sendiri. Sengaja memanfaatkan moment valentine film ini mulai launching tanggal 14 Februari 2013 sepertinya sangat cocok dengan momen romantis yang sedang mewabah tiba-tiba.

Dari segi cerita, film ini menceritakan 5 plot cerita cinta yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain seperti dalam bukunya. Digarap 5 sutradara dari kalangan artis, menurut saya langkah berani sekaligus promosi dari seorang Dewi Lestari. Di film ini peran Dewi Lestari hanya sebatas sebagai penonton, berbeda dengan Perahu Kertas sebelumnya dimana skenario langsung digarap oleh Dee. Rectoverso juga disajikan dalam english translation.


- Malaikat Juga Tahu / Angel Knows
 Ternyata Abang, seorang penderita autism (Lukman Sardi) juga bisa merasakan cinta kepada Leia (Prisia Nasution). Dengan segala keterbatasan, meski tak terucap, cinta seorang Abang begitu nyata kepada Leia. Disutradarai oleh Marcella Zalianty, plot ini yang paling saya suka. That was a true love from Abang :)

- Firasat / Premonition
Senja (Asmirandah) dan Panca (Dwi Sasono) sama-sama mempunyai kelebihan dibandingkan orang lain dan tergabung di klub Firasat. Bahasa cinta di antara mereka begitu jelas meski tiada pernah kata cinta itu terucap.  Plot  garapan sutradara Rachel Maryam ini menggambarkan bahwa cinta yang nyata itu kembali tak terucap karena firasat Senja terhadap Panca.

- Cicak di Dinding / Lizard on the Wall
Disutradarai oleh Cathy Sharon, Cicak di Dinding berhasil mewakili sisi sensualitas  cinta dalam Rectoverso. Cinta seorang pelukis, Taja ( Yama Carlos ) kepada Saras ( Sophia Latjuba) yang diawali dengan sensasi kilat ternyata tak sesingkat seperti pertemuan mereka. Cinta yang masih ada itu tak sempat terucap karena keadaan yang memutuskan demikian.

- Curhat Buat Sahabat / Stories for my Bestfriend
Curhat Amanda ( Acha Septriasa ) kepada sahabatnya Reggi (Indra Birowo) mengenai kekecewaan terhadap mantan kekasihnya. Olga Lidya membuat plot ini menarik dengan alur maju mundur dan komedi khas dari dua orang sahabat ini mampu membuat penonton tertawa . Uniknya, ketika Amanda mulai merasakan cinta yang tulus dari Reggie, saat itu pula Reggi justru memiliha tetap memendam rasa cintanya kepada Amanda.

- Hanya Isyarat / It's Only a Sign
Mengambil setting kebanyakan di pantai, liburan sekaligus acara kopi darat forum milis (mailing list) membuat Al (Amanda Soekasah) seketika jatuh cinta dengan Raga ( Hamish Daud ). Melalui permainan menceritakan kisah paling menyedihkan yang pernah dialami, Al memutuskan bahwa kisah sedih Raga merupakan isyarat bahwa rasa cintanya tak perlu diucapkan kepada Raga. Plot ini disutradarai Happy Salma.

Kelima cerpen yang tergabung dalam Rectoverso tersebut punya satu kesamaan, yaitu cinta yang tak terucap. Satu hal yang paling saya suka dari Dewi Lestari yaitu kisah cinta yang khas namun bukan model roman picisan. Cinta yang tersirat namun nyata. Dan hanya sebagian orang yang mampu menangkap isyaratnya. Menurut saya di situlah sisi romantisnya :)

“Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya" Dee, Rectoverso.

Salam,
~BikDei~


Comments

Post a Comment

Thanks for your comment

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.