Skip to main content

Review Film Hello Goodbye


Hello Goodbye. Film drama garapan Titien Wattimena mulai tayang serentak di bioskob Indonesia pada 29 November 2012. Film yang settingnya di Busan, Korea ini sudah tayang terlebih dahulu di Busan, Korea pada 6, 9, dan 12 Oktober 2012.

Film ini menceritakan pertemuan antara Abi (Rio Dewanto) dan Indah (Atiqah Hasiholan) di Busan, Korea. Abi adalah seorang Anak Buah Kapal (ABK) yang berjiwa abstrak, ,menikmati hidup, namun sedikit temperamen. Sedangkan Indah adalah pegawai KBRI kantor cabang Busan, Korea yang kesepian dan selalu merasa homeless, sedikit kaku, realistis, dan selalu berpatokan pada tujuan dan target hidup. Pribadi yang bertentangan bukan?hehe.



Indah sebagai karyawan KBRI diharuskan menjaga Abi, seorang ABK yang diturunkan di Busan karena terkena serangan jantung. Perbedaan karakter antara Abi dan Indah pada awalnya selalu memicu pertengkaran di antara mereka. Namun akhirnya mereka saling memahami satu sama lain dan jatuh cinta. Di sini agak klise menurut saya ceritanya, karena peluang untuk 2 orang berkebangsaan sama yang setiap hari bertemu dan berinteraksi di negara orang lain memang besar.

Film produksi Falqon Pictures ini menggunakan 2 bahasa, Indonesia dan Korea. Film ini juga dimeriahkan oleh Eru, Prince of Ballad di Korea sebagai cameo sekaligus pengisi soundtrack. Ada sedikit kejutan di film yang berdurasi 100 menit ini, yaotu ketika akhirnya film berakhir, lampu bioskob menyala, deretan nama-nama kru film bermunculan, mendadak film mulai kembali. Yup! Abi dan Indah bertemu lagi di Korea. Haha. Klise banget ya? :D
Karena setiap pertemuan memang berpasangan dengan perpisahan :)

Hello.....
"Hidupku dimulai ketika ibuku melambaikan tangan mengantarkan kepergianku. Kalau kamu kapan?"

"Gak tahu"

"Bukannya kamu selalu punya tujuan untutk semua yang kamu lakukan di dunia ini?"

"Hubungannya dengan pertanyaanmu?"

"Bagaimana kita punya tujuan kalau kita tidak tahu di mana titik awalnya"

"Emm...Mungkin hidupku dimulai ketika aku jemput kamu di pelabuhan"

Goodbye......

Salam,
~BikDei~


Comments

  1. Bik, itu ending filmnya? Ketemuan lagi? Lebih seru ketika pembaca penasaran dengan ending film, biar mereka tambah tertarik untuk nonton filmnya. :)

    ReplyDelete
  2. Jadi Pengen liat filmnya.. hhhmmmmm

    ReplyDelete
  3. yang bikin penasaran soalnya shooting di korea.. kan jarang2 ada film indo kayak gitu :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks for your comment

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.