Skip to main content

Menulis Itu Menyembuhkan Hati

Sumber Gambar : http://goo.gl/b8LSb

Menulis itu menyembuhkan hati. 
Judul buat posting kali ini tiba-tiba melintas di kepala (seperti biasanya), saya dapat dari twitter. Maaf tidak bisa menyebutkan dari akun mana kata-kata "menulis itu menyembuhkan hati" karena saya LUPA :D

Berikut akan saya sisipkan sebuah puisi abal-abal yang pernah saya buat di salah satu bangku 3F di SMP Negeri 3 Surakarta.


Duduk bersimpu tangan di meja
Berpusing kipas di atas
Terlihat di cermin bayangan
Lukisan wajah manusia
Kosong terasa sepi

Gaduh menggelegar terdengar
Berkecimuk suara parau
Kaki bergoyang-goyang
Tanda kesendirian datang
Karna guntur masih menggelegar

Di sini sepi sendiri
Licin seakan tak tersentuh
Batu biru belum datang
Belum datang awang menghalang
Jatuh lalu terpercik air

Di sana api membara membakar
Membakar plastik membara
Hangus dan hilang tanpa tanda
Kedua kaki berkejaran
Berbaris rapi serigala datang

Kemudian di bangku kelas XG SMA Negeri 4 Surakarta, puisi itu dibaca oleh seorang teman saya. Waktu itu, dia mendiskripsikan puisi saya dalam makna denotasi. Katanya, puisi itu dibuat ketika saya sedang merasa bosan menunggu guru yang belum datang tapi tidak mau bergabung maen dengan teman-teman lain. Katanya juga saya sialan, guru kok dibilang serigala.hehe.
Wow speachless saat itu, di mana teman saya bisa benar-benar gamblang membaca apa yang saya tulis di situ. Kemudian dia menulis cepat sebuah puisi di lembar sebaliknya dari puisi saya di atas.

Sering aku merasa mati
Dalam sendiri dan malam-malam sepi
Ini bukan diriku
Orang itu terpaku di jendela
Melihat keluar dirinya yang seharusnya
Yang dulu pernah menjadi dia
Sekarang
Aku merasa orang lain ketika menjadi diriku


Puisi dari teman saya yang sekilas dia tulis itu mungkin mencerminkan dirinya, atau mungkin orang lain. Saya tidak pernah tanya. Sedangkan teman saya itu kabar yang terakhir saya terima, dia kuliah di FISIP UNS kemudian pindah ke Filsafat UGM. Entah selesai atau tidak, dia kemudian hilang ditelan bumi kalau kata teman-teman yang lain. Muncul lagi dengan format sangat islami. Berbeda sekali dengan teman saya yang cenderung gila yang saya kenal waktu SMA.

But, nevermind. Semua manusia itu tumbuh dan berkembang dan memilih menjadi siapa dirinya :)

Menulislah terus. Menulislah. Menulis itu menyembuhkan hati. Menulislah. Buat perkembangan akan dirimu jelas di semua tulisanmu selama hidupmu. Menulis itu cerminan dirimu. Tumbuh dan berkembanglah. Seperti tulisanmu yang juga akan ikut tumbuh dan berkembang.

Terima kasih buat teman saya di atas. Teman saya yang kembali muncul lagi beberapa bulan lalu mengeluarkan komentarnya yang mak jleb lagi. Semoga kita semua bisa tumbuh, berkembang dan menjadi lebih baik lagi dari sekarang.
Salam,
~BikDei~

Comments

  1. hmmmm,

    kini aku sedikit paham... kenapa ada psikologi sastra.. :)

    ReplyDelete
  2. hehe...
    bisa dijelaskan bagaimana psikologi sastra itu mbak Novi?:)

    ReplyDelete
  3. setuju :)
    menulis itu memang menyembuhkan, seakan akan kita bercerita kepada orang lain

    ReplyDelete
  4. @pipit pito : betul sekali :)

    @atmo : terima kasih kalau bisa menjadi inspirasi.hehe

    ReplyDelete
  5. Setuja..

    dengan menulis, membebaskan diri dari penat.

    ReplyDelete
  6. dalam makna denotasi itu maksudnya kepiye mbak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. denotasi berarti makna sebenarnya, kebalikan dari konotasi mas :))

      Delete

Post a Comment

Thanks for your comment

Popular posts from this blog

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Mescusuar Sembilangan Madura

Beberapa waktu lalu, ketika saya masih berdomisili di kota Surabaya, saya berkesempatan mengunjungi Mercusuar Sembilangan di Madura. Tepatnya tempat ini berada di Kabupaten Bangkalan, Madura. Akses paling mudah ditempuh melalui jalur darat dengan menyeberang jembatan sekaligus jalan tol Suramadu, yang menghubungkan kota Surabaya dengan pulau Madura. Biaya masuk tol untuk sekali masuk terbilang lumayan mahal menurut saya, yaitu Rp 30.000,- untuk angkutan roda empat atau lebih untuk sekali lewat.  Sehingga ongkos untuk sekali pergi dan kembali dari pulau  Madura yaitu Rp 60.000,-. Lumayan juga kan.

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…