Skip to main content

Travelling Ke Bromo


Hallo Blogger....
Sudah lama banget ya saya gak ngeblog di sini. Terlalu disibukkan dengan blog kopi saya, sampai-sampai mengabaikan blog ini. Kali ini untuk permulaan come backnya saya di blog ini, saya akan bercerita pengalaman travelling saya ke gunung Bromo beberapa waktu kemarin.

Ceritanya bermula setelah saya resign dari pekerjaan, saya berjanji pada diri sendiri untuk ke Bromo setelah free time.Gak ada hubungannya sich, sayanya aja yang suka jalan-jalan.hehe

Tepatnya Jumat, 1 Juni 2012 saya berangkat sendirian menuju Kota Probolinggo naik kereta ekonomi Logawa jurusan Purwokerto – Jember dari stasiun Purwosari, Solo. Harga tiketnya murah cuma Rp 32.000,- saja. Berangkat dari stasiun Purwosari sekitar pukul 11 pagi. Jangan heran kalau naik kereta ekonomi. Dijamin seru karena rame (pake banget) dan banyak sekali penjual di sana, mulai dari penjual makanan dan minuman, buku-buku, obat, sampai alat keperluan rumah tangga 😆

Perjalanan dari Purwosari menuju Probolinggo naik kereta ekonomi Logawa ini memakan waktu 8 jam perjalanan. Kereta sempat berhenti cukup lama di stasiun Gubeng, Surabaya untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jember. Saya tiba di stasiun Probolinggo pukul 7 malam. Di stasiun Probolinggo saya sempat mengobrol cukup lama dengan seorang bapak yang langsung bisa menerka saya dari Solo atau Jogja.hehe.

Saya sempat jalan-jalan di Probolinggo naik motor bareng Emka, lalu mencicipi mie goreng Kediri di salah satu warung makan. Kota Probolinggo tidak terlalu besar dan padat. Suhu udaranya saat itu tidak terlalu panas, mengingat posisi Probolinggo yang berada di tepi pantai. Dengan kondisi geografis seperti itu tak heran kalau Kota Probolinggo ini berangin, yang kerap disebut dengan angin gendhing. Menurut info dari Emka dan beberapa orang yang saya temui di stasiun Probolinggo, makanan berat khas Probolinggo itu tidak ada, yang terkenal adalah buahnya yaitu buah manggis dan buah mangga dan keripik  bimbi (semacam umbi umbian).

Setelah istirahat sebentar kemudian mandi, saya bersama Emka dan teman-temannya karyawan ODP BNI Kantor Cabang Probolinggo, rombongan sebanyak 10 orang (dua orangnya adalah driver) berangkat naik ke Bromo dengan dua mobil pribadi pukul 12 malam. Sesampainya di kompleks parkiran para pengunjung Bromo pukul 1 dini hari. Di sana kami bersepuluh menghangatkan badan dengan makan pop mie dan ngopi sambil menunggu waktu untuk bisa berwisata di Bromo. Suhu di sana makin lama makin dingin. Saya yang sudah pake baju panjang dan dua lapis jaket, masih harus ditambah dengan kaos kaki, kaos tangan, penutup kepala, dan syal di leher.

Berwisata di kawasan Bromo paling enak kalau menyewa jeep dari warga sekitar. Pada waktu itu kami menyewa 2 buah jeep (lengkap dengan drivernya) @ Rp 500.000,- untuk 4 tujuan wisata yaitu melihat sunrise di gunung Penanjakan, gunung Bromo, bukit Telletubbies, dan area Pasir Berbisik. Satu jeep muat untuk 5-6 pengunjung.
  1. Sunrise di Gunung Pananjakan
Menuju gunung Pananjakan dari parkiran memakan waktu sekitar 45 menit dengan medan buruk yang mampu mengocok-ocok badan dan perutmu. Gak salah memang kalau ke daerah ini hanya bisa ditempuh dengan menggunakan jeep/hartop. Untuk menuju gardu pandang di puncak Gunung Pananjakan harus berjalan kaki (lumayan menghangatkan badan). Di sana sudah rame sekali wisatawan baik domestik maupun manca negara. Sekitar pukul 04.30 kerumunan semakin merapat untuk melihat sunrise yang katanya bagus di situ. Tapi sayang seribu sayang, saat semburan orange sinar matahari yang akan terbit, langsung diserbu dengan kabut gelap.
Pengunjung pun lambat laun meninggalkan gardu pandang karena tidak bisa melihat sunrise. Lagipula udara di situ sudah semakin dingin saja.
Setelah turun dari gardu pandang, kami menghangatkan diri sebentar dengan makan gorengan hangat dan minum panas. Perjalanan pun dilanjutkan untuk turun ke Gunung Bromo.
Di perjalanan menuruni Gunung Pananjakan menuju Gunung Bromo, para pengunjung sempat berhenti di suatu titik dimana bisa melihat Gunung Bromo dan Gunung Batok dengan sangat jelas. Momen foto-fotopun tidak ketinggalan.






2. Gunung Bromo

Gunung Bromo (dari bahasa sanskerta : Brahma, salah seorang Dewa Hindu) merupakan gunung berapi yang masih aktif dan objek wisata paling terkenal di Jawa Timur.  Gunung setinggi 2.392 meter dari permukaan air laut ini berada di 4 wilayah, yaitu Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang. Jarak terdekat ke Gunung Bromo dari Kota Probolinggo.

Bentuk Gunung Bromo Bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas 10 kilometer persegi.

Suku asli Bromo yaitu suku Tengger menganggap Gunung Bromo ini adalah gunung suci. Setahun sekali masyarakat  Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Menurut info dari driver kami yang memang penduduk Bromo, hari Kasodo tahun ini akan jatuh di Bulan Agustus 2012.

Waktu itu lagi-lagi saya tidak berkesempatan naik ke Bromo langsung karena teman-teman saya waktu itu
barusan berkunjung dari sana. Lagipula udara di situ sangat panas dan berdebu serta berangin kencang.

Memang Gunung Bromo yang sempat meletus lagi di tahun 2011 terlihat sangat gersang. Kontras sekali dengan Gunung Batok yang tepat bersebelahan dengan Gunung Bromo

Gunung Batok merupakan bagian dari kaldera pegunungan Tengger dan satu-satunyanya gunung mati atau tidak aktif di kawasan itu.
Dalam bahasa Jawa, Batok berarti "tempurung kelapa". Masyarakat Tengger percaya bahwa Gunung Batok terbentuk dari tempurung kelapa yang ditendang oleh Resi Bima, seorang raksasa sakti setelah gagal memenuhi syarat yang diajukan Rara Anteng untuk memperistrinya.

3. Bukit Telletubbies


Agak jauh dari Gunung Bromo, jeep kami melaju lagi menuju ke Bukit Telletubbies. Disebut bukit Telletubbies karena memang daerah itu berupa gundukan bukit-bukit kecil yang mirip di serial Telletubbies. Jadi tokoh Telletubbies apa kamu? Kalau saya Lala ^^v

Udara di sini sejuk dengan angin sepoi-sepoinya. Enak berlama lama di sini kalau dibandingan dengan kaldera Bromo yang panas berdebu. Cocok untuk spot foto-foto.hehe. Saya paling suka berada di sini karena sejuk dan pemandangannya hijau, enak dilihat mata. Banyak juga ilalang yang telah ditata rapi oleh Pencipta Dunia ini. Indah pokoknya berada di situ.


4. Area Pasir Berbisik

Tujuan terakhir dari paket menyewa jeep yaitu area pasir berbisik. Ini merupakan objek wisata baru yang terkenal setelah dijadikan tempat syuting film Pasir Berbisik yang dimainkan oleh Cristien Hakim dan Dian Sastrowardoyo yang berhasil menyabet penghargaan Best Cinematography Award, Best Sound Award dan Jury's Special Award  For Most Promosing Director di Festival Film Asia 2001.

Tempat ini masih di area kaldera Bromo. Mengapa disebut dengan pasir berbisik? Karena angin di sana sangat kencang dan menerbangkan pasir di lautan pasir kaldera sehingga seakan akan terdengar sedang berbisik.





Setelah mengunjungi semua objek wisata di situ, pukul 11 pagi kami meninggalkan area kaldera Bromo dan kembali menuju Kota Probolinggo untuk pulang. Saya baru bisa menikmati suasana pedesaan Bromo saat itu, mengingat kami tiba di sana pada tengah malam. Sederhana, unik, dan khas. Gak heran kalau Bromo sering dijadilan lokasi syuting film maupun film televisi (ftv).

Kalau ingin kembali ke Solo dari Probolinggo, bisa menggunakan kereta api ekonomi Logawa dengan tiket seharga Rp 32.000,- atau naik bus ke jurusan Surabaya terlebih dahulu ( biasanya MIRA, LADJU,  AKAS,  SANDY PUTRA) seharga Rp 23.000,- kemudian dari Surabaya menuju Solo naik bus (biasanya PATAS EKA) seharga Rp 56.000,-. Bisa juga dengan menggunakan bus AC Biasa seperti MIRA atau SUMBER KENCONO (SUMBER SELAMAT).

Karena waktu itu saya tidak langsung pulang Solo, tapi menuju Kota Malang terlebih dahulu dengan naik bus MILA Rp 24.000,-. Cukup murah kan?

Beberapa waktu lalu, teman saya Emka kembali menuju kaldera Bromo dan berhasil mendapatkan sunrise di puncak Gunung Pananjakan. Ini dia fotonya,


Sekian pengalaman pertama saya travelling ke Gunung Bromo. Semoga informasinya berguna buat para pembaca.

Salam,
~ Ebik Dei~

Comments

  1. menarik sekali ceritanyaa... bikin ngiler pengen ke Bromo... padahal skg lg di jember,, tp belum sempat ke Bromo... :D

    ReplyDelete
  2. kemarin rencana ke bromo, tapi gak jadi...
    meh naik gunung ungaran sik

    ReplyDelete
  3. @buyung
    iyaa coba dech ke Bromo.seru kok.hehe

    @slamr
    yup yup makasih komennya slam:)

    ReplyDelete
  4. @buyung
    iyaa coba dech ke Bromo.seru kok.hehe

    @slamr
    yup yup makasih komennya slam:)

    ReplyDelete
  5. wah, satu jeep untuk 4-6 ?
    dulu ak pake jeep yang bak terbuka bisa muat 12 orang hehehe....zaman rekoso mbiyen,
    bromo dan bukit teletubisnya belum terkalahkan hehehe...

    ReplyDelete
  6. aku mau kesana malah tidak jadi gara-gara cuaca buruk :(

    ReplyDelete
  7. @ atmo
    wahh pasti dulu lebih asli dan alami yaa:)

    @virmansyah
    coba lagi donk next time
    gag bakal nyesel kok:)

    ReplyDelete
  8. ealah baru tahu bukit leletubies ternyata adanya di pulau jawa ya mbak :D haha salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mas...
      kalau menurut saya itu cuma perumpamaan. seperti Paris van java atau Serambi Mekkah :)

      Delete

Post a Comment

Thanks for your comment

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016
Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.
Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.